Anies Baswedan Kerap Dibully, Haji Lulung: Saya Ikut Bertanggung Jawab, Karena….

(tempo.co)

Serangan dan kritikan yang diarahkan kepada Anies tersebut juga sangat ramai di media sosial. Hal itu semakin parah apabila terdapat masalah di mana dia dianggap tidak mampu mengatasinya, seperti banjir, pencemaran sungai, reklamasi, dan masih banyak lagi. Terkait hal itu, begini pendapat Haji Lulung.

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana atau yang dikenal Haji Lulung buka suara soal di-bully-nya Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan oleh netizen. Lulung menegaskan, ia adalah orang yang bertanggung jawab soal kepemimpinan Anies. Lulung telah mengorbankan jabatannya di PPP.

Hasil gambar untuk haji lulung
(tribunnews.com)

“Saya ikut bertanggung jawab, karena saya adalah orang yang banyak berkorban, jadinya Anies Baswedan dan Sandiaga. Saya harus mengorbankan jabatan saya ketua DPW PPP. Ketika saya deklarasi waktu itu, pilkada putaran kedua sudah selesai dan dimenangkan Anies-Sandi,” kata Haji Lulung di ILC dengan tema Anies Baswedan di Pusaran Bully, Selasa malam, 13 Agustus 2019.

Menurut Haji Lulung, banyak prestasi yang telah ditorehkan Anies. Salah satunya, DKI Jakarta mendapat predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP).

“Dua tahun Anies, ujungnya wajar tanpa pengecualian dua tahun berturut-turut,” ucapnya.

Lulung pun menyinggung soal penataan Tanah Abang. Lulung mengajak setiap orang melihat Tanah Abang dari dekat, bahwa Jakarta butuh konsep penataan bukan sekadar penertiban.

“Saya mengajak teman-teman lihat Tanah Abang jangan dari jauh, dari dekat. Harus serius, bukan cuma penertiban. Harusnya konsepnya penataan, Tanah Abang harus jadi sentral ekonomi,” kata dia.

Hasil gambar untuk haji lulung
(viva.co.id)

Selain Haji Lulung, Founder dan chief executive officer PolMark Indonesia, Eep Saefullah Fatah menganggap bully terhadap pemimpin sebagai hal wajar dan biasa. Hal tersebut menjadi bagian kritik untuk membangun.

“Kalau enggak mau di-bully, jangan mau jadi gubernur,” kata Eep, saat diskusi ILC dengan tema Anies Baswedan di Pusaran Bully, Selasa 13 Agustus 2019.

Menurut Eep, ada dua kategori gubernur. Gubernur biasa dan gubernur luar biasa. Untuk menjadi gubernur biasa, kata dia, merupakan hal yang mudah. Tinggal membuat hal hal yang bombastis, monumental, sehingga terlihat megah dan mudah dipersentasikan.

Menjadi gubernur luar biasa ini yang menjadi sulit, karena gubernur tersebut harus memperjuangkan generasi selanjutnya. Meningkatkan kualitas hidup warganya dan ini tidak mudah, tidak bisa bombastis.

“Apakah Anies sudah berproses jadi gubernur luar biasa? Saya harus jujur, belum,” jelasnya.

Menurutnya, ada empat standar bagi gubernur DKI Jakarta. Pertama harus menjadi pemersatu. “Kalau bukan pemersatu bahaya, bukan hanya Jakarta tapi Indonesia,” ucapnya.

Kedua, harus layak diteladani. Ia menganalogikan Jakarta seperti aquarium, di mana semua gerak gerik si ikan dan isinya dapat dilihat langsung oleh semua rakyat Indonesia.

kompas.com

Ketiga, Gubernur DKI harus memihak rakyat. “Pemberontakan warga tidak akan terasa langsung. Pemberontakan warga akan terlihat saat pemilihan,” ungkapnya.

Keempat, Gubernur Jakarta harus menjadi pemberi solusi bagi rakyat dan daerah lainnya. Yaitu dengan merealisasikan janji kampanye.

“Kalau empat standar didekati Anies, baru gubernur luar biasa. Kita tak bisa menilai Anies sebelum tuntas kerjanya,” ujar Eep.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *