Akibat Penerimaan Sistem Zonasi Siswa Baru, Mendikbud Terus Tuai Kecaman

Dunia Pendidikan baru-baru ini menuai kecaman oleh sejumlah orang tua murid, sistem Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dengan menggunakan metode zonasi, dinilai sangat merugikan peserta didik. Hal tersebut disebabkan oleh proses seleksi yang dianggap tidak wajar.

Pasalnya proses seleksi didasarkan pada jarak rumah ke sekolah, tanpa memperhitungkan nilai Ujian Sekolah Berstandar Nasional (USBN).  Hal ini diungkapan oleh salah satu orang tua siswa, Muh. Alwi Jusnasaputra ketika di temui pojoksulsel.com. Dirinya kecewa terhadap penerapan sistem zonasi.

Jawa Pos

“Ini tidak adil dan saya sangat dirugikan. Percuma anak saya dapat nilai yang tinggi, kalau tahu sistemnya begini, anak saya tidak perlu belajar, cukup tinggal berdekatan dengan sekolah biar bisa di terima,” ujarnya dengan nada kesal.

Victory News

Sistem zonasi yang mulai diterapkan sejak Tahun Ajaran 2018/2019 ini banyak menuai pro dan kontra karena dinilai membatasi siswa dengan nilai yang tinggi untuk mendapatkan sekolah favorit. Dalam hal ini semestinya pemerintah menerapkan sistem zonasi secara bertahap dan menyediakan sarana dan prasarana pendukung, dan tidak menyepelakan hasil belajar siswa (nilai) tetap diberlakukan sebagai bahan seleksi agar siswa bersemangat dalam belajar.

Pemerintah juga melakukan sosialisasi sistem zonasi agar dapat mengedukasi secara gencar kemasyarakat karena karakteristik daerah yang berbeda-beda. Sebelumnya Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhajir Effendi untuk mengevaluasi Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) menggunakan sistem zonasi. Tak hanya kecaman, salah satu yang menjadi trending yakni berseliwerannya meme-meme lucu. Sebagai contoh, viral gambar orang beramai-ramai menggotong rumah untuk dipindahkan agar mepet sekolah negeri.

Kemendikbud bukannya tak sadar dengan hal itu. Dalam pandangan Mendikbud Muhadjir Effendy, selama dalam koridor sekadar gurauan, sindiran tentang zonasi dianggap wajar. Berikut respons mantan Rektor Universitas Muhammadiyah Malang ini dalam wawancara dengan iNews.id, Sabtu (22/6/2019):

Di media sosial banyak meme beredar tentang zonasi. Sebagai contoh ada tulisan ‘Menerima jasa pindah rumah ke lokasi dekat sekolah negeri’. Lucu tapi ironi. Tanggapannya seperti apa?

Tidak apa-apa kalau guyonan. Kalau lucu kita bisa tertawa. Kalau tidak buat ketawa, ya kita lihat saja. Saya tidak melihat sesuatu yang istimewa dengan hal ini.

Tapi ini kan artinya banyak curhat warganet terkait masalah pendidikan?

Ya, saya kira semua kebijakan tidak ada yang bisa memuaskan semua orang. Tapi orang yang mendapat amanah dari pemerintah, apalagi membantu Presiden, itu kan tugas menteri menerjemahkan visi Presiden. Menteri tidak boleh buat visi sendiri dan Presiden selalu menekankan keberpihakan terhadap wong cilik. Pihak yang selama ini belum mendapatkan peluang yang cukup untuk mendapatkan akses.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *